Aditya (33) berhasil mengatasi kanker kelenjar getah bening jenis limfoma non-Hodgkin yang mencengkeram pembuluh darah aorta di rongga perut dan menyebar ke liver dan paru-paru. Dari kondisi awal tidak bisa bangun, perut membesar karena penuh dengan cairan, badan kurus, kaki bengkak, berat badan dan Hb drop 2,5 tahun yang lalu ia berhasil kembali normal dalam waktu kurang dari setahun dengan ECCT yang dipakai dikombinasikan dengan kemoterapi. Hasil CT scan setelah setahun menunjukkan massa awal yang sudah CLEAR, tak ada recurrence maupun metastasis. Kondisinya normal, sudah kembali ke aktivitas kerja dan keseharian yang normal.

GAMBAR: Kiri Atas: Foto awal Aditya sebelum pakai alat ECCT; Kiri Bawah: Foto Aditya bersama Dr. Warsito P. Taruno saat setelah setahun pakai ECCT bersamaan dengan kemoterapi; Kanan: Foto Aditya setelah 2,5 tahun pakai ECCT, kemonya sudah diselesaikan sebanyak 6 kali.

Alhamdulillah, Mas Aditya terus sehat, dan “tambah berisi” katanya. 2,5 tahun yang lalu ia tak bisa bangun, perut membesar karena penuh dengan cairan, badan kurus, kaki bengkak, berat badan dan Hb drop. Kankernya telah memenuhi rongga perutnya, mencengkeram pembuluh darah aorta dan menyebar ke liver dan paru-paru. Ia berhasil kembali normal dalam waktu kurang dari setahun.

Pertama kali ia didiagnosis kanker akhir 2023. Hasil biopsi menunjukkan tipe limfoma non-Hodgkin, termasuk jenis kanker yang berkembang cepat dan mudah menyebar karena karakter selnya lunak, mudah menjalar mengikuti aliran kelenjar getah bening.

Hasil CT scan menunjukkan massa besar berukuran 11 cm di rongga perut (para-aorta) melibatkan pembuluh darah besar, disertai penyebaran pada kelenjar getah bening di sekitar pelvis dan selangkangan. Massa menekan ginjal dan ureter sebelah kanan, menyebabkan gangguan ginjal dan kaki bengkak. Sudah tampak juga gambaran nodul multipel di liver dan paru-paru bagian bawah, paru-paru bagian atas tak tervisualisasi.

GAMBAR: Dari kanan ke kiri: Hasil CT scan awal sebelum pakai ECCT yang menunjukkan massa berukuran besar dan disertai nodul penyebaran di liver dan paru-paru; Tengah: hasil CT scan setelah pemakaian ECCT selama 6 bulan bersamaan dengan kemoterapi sebanyak 6 kali; Kanan: Hasil CT scan setelah 1 tahun pakai ECCT, kemonya sudah diselesaikan sebanyak 6 kali.

Kondisinya sudah masuk stadium akhir. Pilihannya hanya kemo. Tetapi kondisinya sangat lemah, untuk duduk pun sudah tak kuat, hanya bisa berbaring. Istrinya berusaha mencari alternatif lain dan berkonsultasi untuk mencoba ECCT.

Secara tipe sel kanker limfoma non-Hodgkin mempunyai karakter lunak, umumnya merespons pengobatan kemoterapi dengan baik. Hanya karena tingkat keganasannya tinggi, massa kanker yang sudah menyusut mudah berkembang kembali dengan cepat, karakternya yang lunak menyebabkan sel tipe ini mudah menyebar memasuki jaringan kelenjar getah bening dan aliran darah dan tumbuh di organ lain. Sementara itu kemo umumnya sudah tidak efektif ketika sel sudah menyebar ke organ lain yang sulit terjangkau oleh aliran pembuluh darah. Dan kemo tidak bisa diberikan terus-menerus karena efek dan beban terhadap tubuh yang berat.

Secara tipe sel ini juga merespons terapi medan listrik ECCT dengan cepat, sel mengalami kematian dengan cepat dengan pemakaian awal 15–30 menit. Karena karakternya yang lunak sel-sel yang mati mudah hancur dan terbuang atau terserap oleh imun tubuh dengan baik, massa kanker relatif cepat mengalami penyusutan.

Akan tetapi karena massa yang cukup besar serta posisi di rongga perut menyebabkan proses pembuangan lambat, sel mati hanya bisa terbuang melalui saluran kelenjar yang alirannya lambat. Kematian sel yang cepat tidak bisa diimbangi oleh proses detoksifikasi yang optimal, mengakibatkan radang kronis apabila sel-sel mati menumpuk terlalu lama dan masif. Peradangan hebat bisa menyebabkan cairan di rongga perut atau asites bertambah hebat.

Peradangan yang hebat umumnya bisa ditekan secara cepat dengan kemo. Karenanya untuk kasus ini tetap dianjurkan untuk kombinasi dengan kemo sesuai dengan saran dokternya. ECCT juga berperan sebagai chemosensitizer, menarik obat kemo ke area target yang sulit dijangkau oleh peredaran darah biasa, karena kemo bekerja melalui aliran darah, kemo jadi lebih efektif. Untuk tipe limfoma non-Hodgkin umumnya massa menyusut dengan cepat pada kemo pertama setelah pemakaian ECCT 1–2 bulan.

Mas Aditya mengikuti saran konsultan ECCT, menggunakan alat selama sebulan mulai Januari 2025, dan kemudian menjalani kemo yang sempat ditunda sebanyak 6 kali selama 4 bulan dari Februari hingga Juni sambil terus pakai alat.

Kondisinya berangsur membaik setelah pemakaian alat bersamaan dengan kemo, tak muncul radang, pembuangan lancar, perutnya perlahan mengempis, aktivitas fisik bertambah dan lebih mandiri. Hasil CT scan setelah 6 bulan menunjukkan massa yang relatif sudah CLEAR, penyebaran di liver dan paru-paru sebelumnya sudah tak tampak ada nodul.

Ia terus melanjutkan pemakaian alat ECCT untuk preventif. Karena tipe selnya yang mudah muncul kembali dan menyebar, proteksi jangka panjang untuk mematikan sel-sel kecil yang masuk ke dalam aliran darah maupun jaringan kelenjar getah bening, tanpa risiko terhadap kerusakan fungsi organ dan keseimbangan tubuh secara keseluruhan menjadi kunci penting untuk pencapaian remisi dan recovery ke kondisi normal seterusnya.

Hasil CT scan setelah setahun menunjukkan tak ada recurrence maupun metastasis. Kondisinya relatif sudah normal dalam waktu kurang dari 1 tahun sejak pertama kali didiagnosis akhir 2023. Ia sudah kembali ke aktivitas kerja dan keseharian yang normal.

Menjelang 3 tahun dari pertama kali didiagnosis kanker getah bening limfoma non-Hodgkin, kondisi Mas Aditya tak ada keluhan, tak ada tanda-tanda recurrence maupun metastasis, aktivitasnya normal. Semoga tetap sehat buat Mas Aditya (WS).