Pak Prasetyo pertama kali didiagnosis kanker nasofaring dan tiroid bulan Oktober 2024. Awalnya ia mengalami mimisan terus-menerus. Hasil biopsi menunjukkan kanker ganas jenis karsinoma sel skuamosa dari nasofaring tak berkeratin dan berdiferensiasi buruk. Di tiroid terdapat benjolan dengan hasil biopsi juga menunjukkan keganasan, jenis karsinoma papiler tiroid dengan tingkat keganasan rendah. Kanker nasofaring yang dialami oleh Pak Prasetyo termasuk tipe dengan tingkat keganasan paling tinggi, umumnya merespons dengan baik pengobatan kemoterapi dan radiasi, dan juga terapi medan listrik ECCT. Dengan terapi massa kanker cepat mengalami penyusutan. Akan tetapi permasalahannya kanker tipe ini mudah tumbuh kembali dengan cepat meskipun sudah menyusut, bisa menyebar memasuki jaringan kelenjar getah bening dan aliran darah, tumbuh di organ lain. Karenanya ia menjalani kemo dan radiasi untuk menyusutkan massa kanker dengan cepat, dan dilanjutkan dengan memakai ECCT untuk membersihkan sel-sel yang sisa dan untuk perlindungan jangka panjang guna mencegah kemunculan kembali dan penyebaran. Untuk massa di tiroid ia tak melakukan terapi medis, hanya mengandalkan ECCT. Benjolan di tiroid menyusut secara perlahan, sesuai dengan karakternya yang low grade, merespons secara lambat terapi berbasis medan listrik.

GAMBAR: Dari kanan ke kiri, hasil PET Scan sebelum, setelah 3 bulan ECCT dan setelah 1 tahun pemakaian ECCT.
***
Pak Prasetyo bertanya: “Kantung mata saya bisa hilang juga nggak?” “Bisa, kalau lemak tubuh bisa turun di bawah 12%,” dijawab. Paling tidak dalam 6 bulan kerutan di wajahnya sudah hampir hilang, wajahnya lebih “firm” dan lebih segar. Kantung matanya sudah berkurang juga.
Pak Prasetyo tidak sedang menjalani program “facelift” untuk mengencangkan wajahnya. Tetapi ia sedang menjalani proses recovery dari cengkeraman 2 kanker ganas sekaligus di balik wajahnya: kanker nasofaring dan tiroid.
Awalnya ia mengalami mimisan terus-menerus. Oktober 2024 ia kemudian melakukan pemeriksaan dan biopsi di rumah sakit di Jakarta. Hasil biopsi menunjukkan ganas jenis karsinoma sel skuamosa dari nasofaring. Di tiroid tampak juga benjolan yang hasil biopsi juga menunjukkan tipe ganas, karsinoma papiler tiroid, jenis kanker tiroid dengan tingkat keganasan rendah.
Kanker nasofaring yang dialami oleh Pak Prasetyo termasuk tipe dengan tingkat keganasan paling tinggi. Tipe ini mempunyai karakter lunak tidak terlalu liat, umumnya merespons pengobatan kemoterapi dan radiasi dan juga terapi medan listrik ECCT dengan baik. Karena karakternya yang lunak sel-sel yang mati mudah hancur dan terbuang atau terserap oleh imun tubuh dengan baik, massa kanker relatif cepat mengalami penyusutan.
Akan tetapi permasalahannya adalah karena tingkat keganasannya tinggi, massa kanker yang sudah menyusut mudah berkembang kembali dengan cepat, karakternya yang lunak menyebabkan sel tipe ini mudah menyebar memasuki jaringan kelenjar getah bening dan aliran darah dan tumbuh di organ lain. Terapi dengan kemo dan radiasi umumnya sudah tidak efektif ketika sel sudah menyebar ke organ lain yang sulit terjangkau oleh aliran pembuluh darah atau kalau peningkatan dosis radiasi bisa berefek pada kerusakan organ penting lain.
Karenanya untuk tipe sel ini proteksi jangka panjang untuk mematikan sel-sel kecil yang masuk ke dalam aliran darah maupun jaringan kelenjar getah bening, tanpa risiko terhadap kerusakan fungsi organ dan keseimbangan tubuh secara keseluruhan menjadi kunci penting untuk pencapaian remisi dan recovery ke kondisi normal. Terapi medan listrik dengan ECCT bisa memenuhi kriteria ini. Kemo dan radiasi dilakukan di awal bisa dilakukan untuk menyusutkan massa kanker dengan cepat, dilanjutkan dengan proteksi menggunakan ECCT untuk membersihkan sel-sel yang sisa dan perlindungan jangka panjang guna mencapai remisi dan recovery secara optimal.
Pak Prasetyo menjalani pengobatan dengan kemoterapi dan radiasi untuk massa di nasofaring di Malaysia. Massa di tiroid belum dilakukan tindakan apa-apa. Massa di nasofaring mengalami penyusutan signifikan setelah menjalani kemoterapi sebanyak 9 kali dan radiasi sebanyak 33 kali, dari massa awalnya yang memenuhi rongga nasofaring kiri dan sudah menjalar ke nasofaring kanan dan saluran napas di bawah nasofaring pada hasil MRI dan PET scan November 2024 menyusut hingga menjadi tinggal di bawah 2 cm pada hasil CT scan Februari 2025.
Lendir masih keluar dari hidungnya, menandakan massa belum benar-benar bersih, dan masih ada potensi untuk berkembang kembali. Keluhan dari efek kemoterapi dan radiasi menyebabkan ia kehilangan indra penciuman dan muncul rasa kebas di anggota badan sebelah kiri, serta muncul juga rasa kliyengan saat bangun dari duduk disertai mulut yang terasa kering. Kemoterapi dan radiasi tak bisa diberikan terus-menerus untuk proteksi jangka panjang karena efeknya terhadap tubuh secara keseluruhan. Karenanya Pak Prasetyo mencoba untuk memakai ECCT guna membersihkan sel-sel yang masih sisa, mencegah muncul kembali dan penyebaran, serta membantu recovery lebih cepat dari efek kemo dan radiasi.
Pak Prasetyo mulai pakai ECCT April 2025. Ia diberi alat berupa helm penutup kepala hingga leher untuk menjangkau area nasofaring, seluruh otak dan kelenjar getah bening di area leher yang merupakan area penyebaran utama kasus nasofaring jenis high grade, dipakai bersama rompi untuk menjangkau area toraks dan abdomen untuk mencegah penyebaran ke paru-paru dan liver. Selain itu ia juga mendapatkan alat yang bentuknya “aneh” seperti SpongeBob. Bentuknya aneh, tetapi alat ini muncul dari desain dan komputasi medan elektromagnet yang dioptimalisasi untuk memberikan coverage maksimal dari otak hingga pinggang, menghasilkan distribusi medan listrik yang dibuat lurus dan homogen, mencegah penyebaran ke tulang belakang.
Ia juga mendapatkan program alat pembangkit medan listrik osilator untuk menimbulkan interaksi pada tingkat protein dan mikrotubula sehingga sel mengalami kematian secara instan dalam waktu kurang dari 5–15 menit. Dan juga satu lagi program osilator untuk membangkitkan medan listrik yang berinteraksi pada tingkat seluler yang bisa menstimulasi reseptor pada sel membran terkait imun, mengaktifkan sel T dan NK guna menginduksi kematian sel lewat jalur imun (Alamsyah, 2018).
Respons yang dialami oleh Pak Prasetyo cukup cepat, lendir dan ingus banyak keluar dari kedua hidungnya, menandakan masih ada sisa-sisa massa di rongga hidungnya di kanan dan kiri. Ia juga mengalami buang air kecil keruh, buang air besar sempat gelap/hitam di awal, umumnya hasil penelitian feses tak ditemukan abnormalitas meskipun warna feses jadi hitam/gelap, biasa terjadi sebagai reaksi pembuangan normal untuk kasus high grade (tipe lunak). Gumpalan lendir kental bercampur padatan berwarna hitam sebesar ujung jari telunjuk juga sempat keluar sekali, tanpa disertai pendarahan; kemungkinan berasal dari sisa massa yang sebelumnya masih ada. Reaksi pembuangan melalui lendir dan ingus selama pakai alat ECCT menjadi indikator yang mudah dan cukup akurat untuk menandai “tingkat kebersihan” massa kanker yang masih aktif di rongga hidung. Lendir dan ingus berkurang seiring dengan penggunaan alat, dan berhenti total setelah 3 bulan.
Hasil PET scan setelah 3 bulan pemakaian ECCT menunjukkan massa yang relatif sudah bersih, tinggal kemungkinan sisa-sisa inflamasi yang masih menangkap FDG ringan pada area nasofaring kiri yang merupakan posisi massa awal. Tak tampak adanya penyebaran pada kelenjar getah bening di area leher yang sering terjadi pada kasus tipe sel yang dialami oleh Pak Prasetyo, maupun di organ lain. Sebagai bonusnya massa di tiroid juga tampak menyusut.
Untuk massa tiroid, karena selnya tergolong low grade, respons terhadap terapi medan listrik yang dihasilkan oleh ECCT umumnya lambat. Kalau kasus tipe derajat tinggi seperti pada nasofaring bisa menyusut secara signifikan dalam 3–6 bulan, sementara tipe low grade seperti pada tiroid perlu waktu 9–12 bulan untuk menyusut sedikit, dan kemungkinan perlu beberapa tahun untuk bisa menyusut signifikan. Karakter kanker low grade umumnya tipe sel-sel matinya sangat liat, banyak mengandung kolesterol tinggi, sulit terbuang dengan baik melalui pembuluh darah yang halus. Apabila dengan ECCT saja bisa menyusut secara perlahan atau paling tidak tak berkembang, tetapi kemungkinan sulit mencapai bersih/remisi kalau tidak dioperasi. Tetapi selama tak berkembang dan terus pakai alat, umumnya tetap aman.
Setelah 1,5 tahun pemakaian kondisi Pak Prasetyo relatif normal, aktivitasnya normal. Keluhan efek radiasi dan kemoterapi hilang dalam beberapa bulan setelah pakai alat. Hasil PET scan terakhir setelah pemakaian alat selama 1 tahun menunjukkan massa di nasofaring yang relatif sudah bersih; masih ada gambaran bekas massa di posisi awal, kemungkinan jaringan parut yang masih menangkap sedikit FDG. Massa di tiroid juga lebih menyusut lagi.
Sementara ini ia belum boleh pakai alat ECBS #CSPORT untuk mempercepat mengurangi lemak tubuh guna mencapai target lemak tubuh di bawah 12% dan menghilangkan kantung mata di wajahnya. Kerutan hilang, wajah yang lebih kencang dan kantung mata berkurang hanyalah “bonus” kecil dari proses pemulihan dengan ECCT.
Semoga tetap sehat buat Pak Prasetyo (WS).

GAMBAR: Foto Pak Prasetyo setelah 6 bulan pemakaian dan setelah 1,5 tahun pemakaian ECCT.
