September 2024 Fauzan didiagnosis kanker paru-paru di sebelah kiri dengan ukuran sudah mencapai 18 cm. Ia mengalami batuk yang seolah-olah tak ada henti, tak bisa tidur terlentang dengan nyaman, hanya bisa setengah berbaring atau setengah duduk. Karena takut melakukan kemoterapi ia kemudian melakukan konsultasi untuk kemungkinan bisa terapi dengan ECCT diantar ayah dan ibunya di bulan September 2024. Konsultan ECCT menjelaskan bahwa kankernya sudah terlalu besar, mematikan sel kankernya dengan ECCT bukan masalah, tetapi imun tubuhnya kemungkinan tak akan mampu memproses sel-sel mati dengan baik secara alami, perlu diintervensi medis agar tak terjadi respons imun yang berlebihan seperti terjadi badai sitokin. Karenanya ia disarankan untuk tetap menjalani kemoterapi seperti dianjurkan oleh dokternya sambil pakai alat ECCT. Ia pakai alat 3 bulan dan kemudian menjalani kemoterapi Januari 2025. Ia tetap memakai alat ECCT sambil menjalani kemo. Setelah pemakaian alat 3 bulan massa menyusut dari 18 cm menjadi 16 cm, dan menyusut lagi dengan cepat setelah menjalani 1 kali kemo menjadi 7,6 cm. Setelahnya massa tumor relatif menyusut secara lambat, dari 7,6 cm menjadi 5,7 cm dalam 3 bulan berikutnya setelah selesai kemo total sebanyak 4 kali. Kondisi klinisnya berangsur membaik seiring dengan penyusutan massa tumor. Sesak napas dan batuknya relatif sudah hilang, aktivitasnya sudah kembali hampir normal. Hasil biopsi ulang setelah selesai kemoterapi menunjukkan sisa massa sudah tidak mengandung sel ganas, tinggal jaringan fibrosis sebagai sisa bekas kanker. Ia terus memakai alat untuk preventif.


Gambar: ATAS, dari kanan ke kiri: Foto Fauzan saat awal didiagnosis kanker paru-paru sebelum pakai alat ECCT, setelah 6 bulan dan 1 tahun setelah pakai ECCT; BAWAH: Hasil CT scan sebelum pakai alat ECCT, setelah 3 bulan pakai alat, dan setelah 1 tahun pakai alat ECCT bersamaan dengan kemoterapi.
***
Setahun sebelumnya ukuran kanker di paru-paru Fauzan sudah mencapai 18 cm. Ia mengalami batuk yang seolah-olah tak ada henti, sehingga tak bisa tidur terlentang dengan nyaman, hanya bisa setengah berbaring atau setengah duduk. Berat badannya sudah turun 15 kg dalam 6 bulan.
Sebenarnya ia sudah menjalani pemeriksaan bronkoskopi dan ditemukan adanya massa di paru-parunya di RS di Jakarta sejak tahun 2022 dan disarankan biopsi. Karena takut ia tak melanjutkan pengobatan, ia juga tak mendapatkan obat apa-apa dari dokternya. 3 tahun kemudian kondisinya semakin memburuk. Hasil CT scan menunjukkan massa tumor telah memenuhi paru-paru kirinya, mendesak jantung dan saluran napas dan kerongkongan ke arah paru-paru sebelah kanan, sudah ada lesi penyebaran di paru-paru kanan dan liver. Hasil biopsi menunjukkan ganas, tipe mixed germ cell tumor. Hasil bone scan juga menunjukkan sudah ada penyebaran di tulang tengkoraknya. Secara stadium sudah masuk akhir.
Karena takut melakukan kemoterapi ia kemudian melakukan konsultasi untuk kemungkinan bisa terapi dengan ECCT diantar ayah dan ibunya di bulan September 2024. Konsultan ECCT menjelaskan bahwa kankernya sudah terlalu besar, mematikan sel kankernya dengan ECCT bukan masalah, tetapi imun tubuhnya kemungkinan tak akan mampu memproses sel-sel mati dengan baik secara alami, perlu diintervensi medis agar tak terjadi respons imun yang berlebihan seperti terjadi badai sitokin. Karenanya ia disarankan untuk tetap menjalani kemoterapi seperti dianjurkan oleh dokternya sambil pakai alat ECCT.
Pemakaian ECCT sebelum kemo membantu mematikan sel ganas sebanyak mungkin, melemahkan kanker secara keseluruhan. Kemoterapi setelah pemakaian alat 2–3 bulan umumnya berefek cepat menekan imun sehingga tidak terjadi radang hebat, umumnya massa menyusut secara cepat hanya dengan sekali kemo. Hal ini sesuai dengan hasil uji klinis yang menunjukkan kombinasi alat dengan kemo memberikan hasil penyusutan massa tumor rata-rata hingga 74% dalam waktu 2–3 bulan dibanding dengan hanya kemo saja yang memberikan penyusutan massa tumor rata-rata hanya 45%.
Penyusutan massa tumor dengan alat saja sangat tergantung proses peluruhan sel kanker serta jalur pembuangan sel-sel mati. Untuk tipe sel dengan karakter lunak dan keganasan tinggi (misalnya jenis adenokarsinoma tipe poorly/undifferentiated) proses peluruhan sel tumor berlangsung relatif sangat cepat (dalam hitungan minggu) dan apabila jalur pembuangan lancar massa tumor umumnya bisa menyusut relatif cepat (70–80% dalam 1–3 bulan).
Permasalahan yang dihadapi oleh Fauzan adalah jenis sel yang dialaminya secara fisik relatif liat, posisi tumor di dalam paru-paru menyebabkan jalur pembuangan yang tak terlalu lancar, akibatnya bisa terjadi penumpukan sel-sel mati yang masif dan menyebabkan peradangan hebat. Kombinasi dengan kemoterapi akan mencegah terjadinya peradangan kronis dan mempercepat penyusutan massa tumor.
Fauzan mulai memakai alat ECCT pertengahan Oktober 2024. Perkembangannya lambat, perbaikan secara klinis relatif belum banyak terjadi hingga pemakaian 2 bulan. Batuknya relatif belum berubah, ia masih belum bisa tidur terlentang dengan nyaman, berat badannya masih mengalami penurunan. Reaksi pembuangan juga relatif normal, sesuai dengan perkiraan awal.
Hanya hasil CT scan setelah pemakaian 2 bulan menunjukkan ukuran massa tumor yang menyusut dari 18 cm menjadi di bawah 16 cm, massa penyebaran di liver sudah tak terdeteksi, massa penyebaran di paru-paru kanan stabil, tak ada penambahan lesi penyebaran baru. Ukuran massanya mengecil, penyebaran relatif lebih bersih, tetapi secara ukuran massa masih relatif besar, sehingga perkembangan klinisnya masih lambat karena sel-sel mati masih menumpuk. Ia tetap dianjurkan untuk menjalani kemoterapi sesuai anjuran dokternya seperti saran di awal untuk mempercepat proses terapinya.
Fauzan mulai menjalani kemoterapi Januari 2025, 3 bulan setelah pemakaian alat. Ia tetap memakai alat ECCT sambil menjalani kemo. Pemakaian ECCT bersamaan dengan kemoterapi mempunyai efek yang disebut chemosensitizer, meningkatkan sensitivitas kemo karena medan listrik mempunyai efek menarik sel darah yang mengangkut obat kemo hingga ke permukaan jaringan yang tidak terjangkau baik oleh pembuluh darah halus.
Efek kemo bersama pemakaian alat ECCT pada kasus Fauzan menunjukkan hasil penyusutan massa yang signifikan. Setelah menjalani kemoterapi 1 kali sambil terus memakai alat hasil CT menunjukkan massa tumor yang menyusut dari ukuran 16 cm menjadi 7,6 cm. Setelahnya massa tumor relatif menyusut secara lambat, dari 7,6 cm menjadi 5,7 cm dalam 3 bulan berikutnya setelah selesai kemo total sebanyak 4 kali. Kondisi klinisnya berangsur membaik seiring dengan penyusutan massa tumor. Sesak napas dan batuknya relatif sudah hilang, aktivitasnya sudah kembali hampir normal. Hasil biopsi ulang setelah selesai kemoterapi menunjukkan sisa massa sudah tidak mengandung sel ganas, tinggal jaringan fibrosis sebagai sisa bekas kanker.
Fauzan terus memakai alat ECCT sebagai preventif. Setahun sejak pertama kali pakai alat kondisinya sudah kembali normal. Berat badannya meningkat dari 46 kg menjadi 65 kg dalam 3 bulan, melebihi jumlah berat badan yang hilang karena kanker di awal sebelum pakai alat. Ia sudah kembali kerja setelah setahun sempat berhenti. Ukuran jaringan fibrosis di paru-paru kirinya relatif tak berubah dari hasil CT scan setelah setahun. Semoga tetap sehat buat Fauzan.
