Setahun yang lalu mata kanan Erwin tak bisa membuka akibat kanker nasofaring. Hasil pemeriksaan CT scan kepala dan leher menunjukkan massa di area nasofaring kanan yang sudah meluas ke nasofaring kiri dan menyebar ke dalam intrakranial otak. Hasil biopsi menunjukkan kanker ganas tipe sel kanker skuamosa tak berkeratin tak berdiferensiasi, jenis sel dengan derajat keganasan tinggi. Kasusnya secara umum dikategorikan sebagai stadium akhir (IVA/IVB), tujuan perawatan dan penanganan medis pada tahap ini umumnya bergeser menjadi terapi paliatif untuk mengendalikan gejala, meningkatkan kualitas hidup pasien, dan memperpanjang masa hidup; menargetkan kesembuhan total (kuratif) sulit dicapai. Tetapi Erwin berhasil melewati tantangan berat itu hingga terlepas dari penyakit dan kembali normal.


Gambar: ATAS: Foto fisik Erwin sebelum pakai ECCT, setelah 3 bulan dan setelah 10 bulan pemakaian, 3 bulan pertama bersamaan dengan kemoterapi 3 kali dan radiasi 16/33 kali sebelum stop karena tak kuat; BAWAH: Paling kanan, hasil CT scan kepala dan leher sebelum yang menunjukkan massa di nasofaring kanan yang sudah meluas ke kiri dan menyebar ke intrakranial; Tengah, hasil CT-scan setelah pemakaian ECCT selama 3 bulan bersamaan kemo dan radiasi yang menunjukkan massa mengecil signifikan dan penyebaran di intrakranial yang sudah bersih; Paling kiri, hasil CT scan setelah 10 bulan yang menunjukkan massa sudah bersih.
***
Setahun yang lalu Erwin sempat mengira mata kanannya tak bisa membuka lagi akibat kanker nasofaring yang sudah menyebar ke otak. Ia menemukan jalan untuk bisa melihat secara normal lagi.
Erwin didiagnosis kanker nasofaring sekitar pertengahan tahun 2025. Hasil pemeriksaan CT scan kepala dan leher menunjukkan massa di area nasofaring kanan yang sudah meluas ke nasofaring kiri, ruang faringeal dan parafaringeal, ruang prevertebral hingga masuk ke dalam intrakranial otak pada ruang kavernosa ekstra-aksial. Hal itu menyebabkan gangguan pada saraf matanya sehingga tak bisa membuka mata kanannya, tak bisa menggerakkan pupil. Hasil biopsi menunjukkan kanker ganas tipe sel kanker skuamosa tak berkeratin tak berdiferensiasi, jenis sel dengan derajat keganasan tinggi.
Awalnya mata kanannya mulai buram dan kelopak mata yang menyempit, lama-kelamaan kelopak matanya tak bisa dibuka sama sekali. Pupil juga tak bisa digerakkan ke kanan maupun ke kiri. Nafsu makannya berkurang, selama 2 bulan berat badannya menyusut hingga 15 kg. Kadang-kadang ia mengeluarkan dahak yang bercampur darah.
Setelah hasil biopsi keluar dokternya menyarankannya lanjut proses kemoterapi dan radiasi. Tetapi ia ragu akan efek sampingnya, selain kemungkinan harapan untuk bisa sembuh total kecil karena kondisi kankernya sudah masuk stadium lanjut. Secara umum metastasis intrakranial pada kasus karsinoma nasofaring dikategorikan sebagai stadium akhir (IVA/IVB). Penyebaran ke intrakranial (dalam rongga tengkorak) atau otak berarti kanker telah menembus struktur dasar tengkorak/tulang dan mengenai jaringan otak atau saraf kranial. Tujuan perawatan dan penanganan medis pada tahap ini umumnya bergeser menjadi terapi paliatif untuk mengendalikan gejala, meningkatkan kualitas hidup pasien, dan memperpanjang masa hidup; menargetkan kesembuhan total (kuratif) sulit dicapai.
Ia terus berusaha untuk bisa mendapatkan alternatif lain dengan harapan kesembuhan yang lebih baik hingga akhirnya berkonsultasi untuk menggunakan ECCT. Konsultan ECCT menjelaskan secara umum tipe sel dengan tingkat keganasan tinggi seperti yang dialaminya merespons baik terhadap ECCT, sel cepat mengalami kematian, dan tipe selnya yang relatif lunak bisa dibuang oleh tubuh keluar melalui ekskresi tubuh dengan baik. Akan tetapi karena massanya sudah cukup luas dan menyebar ke otak, kerja imun tubuh kemungkinan cukup berat untuk mengatasi sel-sel mati yang menumpuk. Konsultan ECCT menyarankan untuk tetap melakukan kombinasi dengan prosedur medis yang disarankan oleh dokternya dengan kemo dan/atau radiasi.
Erwin merasa ada harapan kembali dan memutuskan untuk pakai alat sambil tetap menjalani kemoterapi dan radiasi.
Tipe sel kanker skuamosa tak berkeratin tak berdiferensiasi adalah tipe kanker nasofaring yang paling agresif. Tipe ini mudah menyebar ke jaringan sekitarnya dan ke organ lain. Akan tetapi karena karakternya yang lebih lunak dibanding tipe sel dengan diferensiasi baik atau berkeratin, tipe ini merespons ECCT lebih cepat, sel mengalami kematian lebih cepat menjadi lendir yang mengalir ke saluran pernapasan atau keluar melalui bentuk ekskresi pembuangan lainnya. Umumnya sel meluruh dan menyusut dalam kurun waktu 2–3 bulan pemakaian. Kombinasi dengan kemo akan mempercepat proses terapi sehingga tak terjadi peradangan akibat penumpukan sel-sel mati, penyusutan volume juga bisa terjadi lebih cepat berdasarkan hasil studi klinis tahun 2019.
Erwin mulai memakai ECCT akhir Juni 2025 dengan alat berupa helm desain terbaru yang menutup kepala hingga leher, dada dan perut bagian atas, serta satu set alat lagi berupa helm kecil yang menutup bagian kepala hingga leher dikombinasikan dengan rompi untuk menutup bagian dada. Ia tetap melanjutkan proses kemoterapi yang disarankan dokternya sebanyak 3 kali dan dilanjutkan radiasi yang direncanakan sebanyak 33 kali. Tetapi baru selesai 16 kali ia stop radiasi karena kondisi drop. Sejak stop radiasi karena drop, ia kemudian hanya melanjutkan pakai alat ECCT saja.
Reaksi yang muncul setelah pemakaian alat selain ekskresi umum melalui buang air besar yang gelap dan bau menyengat, buang gas yang berketerusan, keringat dan urin yang relatif menyengat, muncul juga lendir yang keluar terus-menerus melalui mulut disertai gumpalan berupa jaringan padat. Seiring dengan pembuangan yang lancar keluhan sakit kepalanya berkurang, sakit dan kebas pada pipi kanan berkurang. Kelopak matanya sebelah kanan yang tadinya tak bisa terbuka mulai terbuka, pupilnya bisa digerakkan kembali. Ia mulai bisa melihat kembali dengan dua mata setelah 3 bulan.
Hasil CT scan, setelah pemakaian 3 bulan disertai kemo awal 3 kali dan radiasi separuh paket dari total 33 kali yang direncanakan, menunjukkan penyusutan massa dari 3.5 × 3.2 × 5.5 cm menjadi 1.7 × 2.2 × 2.3 cm, atau sekitar 60% penyusutan secara volume. Massa penyebaran di area intrakranial sudah bersih, penyebaran ke kelenjar getah bening bilateral tak kelihatan. Hasil CT scan setelah pemakaian ECCT selama 9 bulan setelah berhenti radiasi karena drop menunjukkan massa yang sudah bersih, tak ada penyebaran di kelenjar getah bening maupun organ lain, kecuali sisa penebalan bekas tumor di area nasofaring kanan.
Hal ini menunjukkan bahwa kemo dan radiasi dengan dosis sub-optimal dikombinasikan dengan ECCT pada kasus kanker nasofaring agresif seperti yang dialami oleh Erwin menunjukkan masih memungkinkan mencapai remisi dan mendukung kondisi kualitas hidup yang baik. Hasil studi klinis pada kasus lain juga menunjukkan bahwa kombinasi terapi medan listrik di AS terbukti efektif meningkatkan efektivitas pengobatan sekaligus menekan efek samping, meningkatkan kualitas hidup pasien. Hasil studi klinis yang dilakukan oleh Prof. Romdhoni (2019) yang dipublikasikan di Kongres ke-18 ORL-HNS ASEAN menunjukkan tingkat penyusutan volume tumor rata-rata mencapai 74% dengan kombinasi dibanding dengan 45% dengan kemoterapi saja.
Berdasarkan riset laboratorium dan klinis, medan listrik tidak sekadar “menambah” efek, melainkan melipatgandakan kinerja kemoterapi melalui mekanisme: (1) Meningkatkan penyerapan obat (Kemosensitisasi), (2) Membuka sawar darah otak (blood brain barrier), dan (3) Efek antimitotik ganda.
Riset di PubMed Central (PMC) membuktikan bahwa paparan medan listrik memodifikasi protein transport sel, berefek konsentrasi obat kemoterapi yang masuk ke dalam sel kanker meningkat hingga lebih dari 70%. Hal inilah yang membuat kemoterapi dosis rendah menjadi jauh lebih efektif. Untuk kasus penyebaran ke otak, medan listrik dapat meningkatkan permeabilitas pembuluh darah otak sementara waktu, sehingga obat kemoterapi yang biasanya sulit menembus otak dapat masuk dengan dosis optimal. Selain itu efek antimitotik ganda bisa terjadi dengan kemoterapi menyerang fase pembelahan sel secara kimiawi, sementara medan listrik mengacaukan struktur fisik sel (tubulin dan septin) saat membelah.
Kondisi Erwin saat ini sudah kembali normal dan aktif. Berat badannya lebih agak susut kemungkinan karena diet mengurangi asupan kalori, secara umum relatif tak ada keluhan. Semoga tetap sehat buat Erwin (WS).
