Bu Wini sudah menjalani operasi sebanyak 4 kali sejak 2016 ditambah radiasi sebanyak 25X hingga terakhir tahun 2022. Massa tumor yang tumbuh di langit-langit rongga mulut (palatum) terus tumbuh, menginfiltrasi rongga hidung dan tulang pipinya. Kankernya baru berhenti tumbuh setelah mulai pakai ECCT. Tetapi perlu 2 tahun buatnya untuk akhirnya memutuskan pakai alat karena kasusnya termasuk sulit ditangani dengan ECCT.

8 Tahun Massa Tumor di Rahang Terus Muncul Kembali meskipun Berkali-kali Operasi dan Radiasi, Baru Berhenti Tumbuh setelah Pakai ECCT

Gambar: ATAS KANAN: Foto wajah Bu Wini setelah menjalani operasi ke-4 untuk pengangkatan massa tumor di rahang/rongga mulut dan selesai menjalani radiasi tahun 2022, serta hasil CT scan pascaoperasi dan radiasi yang menunjukkan rekurensi; KIRI: Foto wajah setelah 2 tahun tanpa menjalani terapi apa pun dan hasil CT scan tahun 2024 yang menunjukkan massa berkembang hingga 3X lipat dibanding 2 tahun sebelumnya; BAWAH KANAN: Foto wajah setelah pakai ECCT setahun yang menunjukkan bekas operasi yang lebih bersih dan wajah lebih cerah, serta hasil CT scan tahun 2025 yang menunjukkan massa tumor yang telah menyusut secara signifikan; KIRI: Foto wajah Bu Wini setelah pemakaian 2 tahun yang menunjukkan kondisi relatif normal.

***

Hasil patologi menunjukkan tipe adenoid cystic carcinoma (karsinoma kistik adenoid). Jenis ini merupakan kanker langka yang umumnya tumbuh di dalam kelenjar air liur (kelenjar ludah) pada area kepala dan leher, meskipun juga bisa tumbuh di organ tubuh lain yang memiliki kelenjar ekskresi, seperti payudara, kulit, saluran pernapasan, dan organ reproduksi. Kanker ini mempunyai karakteristik dengan pertumbuhan lambat (slow-growing) dibandingkan karsinoma lainnya, menginvasi saraf dan memiliki kecenderungan untuk tumbuh dan menyebar di sepanjang jaringan saraf (perineural invasion) yang sering kali memicu rasa nyeri atau mati rasa. Kanker kistik adenoid meskipun umumnya merespon pengobatan awal dengan baik, memiliki risiko kambuh yang tinggi dalam jangka panjang dan dapat menyebar (metastasis) ke organ lain, terutama paru-paru dan tulang.

Karena karakternya mengganggu saraf sehingga menyebabkan rasa sakit berketerusan, kanker jenis ini bisa sangat mengganggu penampilan dan aktivitas sehari-hari. Bu Wini mengalami kesulitan mengunyah akibat operasi pengangkatan sebagian rahang atas bagian kanan serta karena tekanan massa yang tumbuh kembali pascaoperasi dan radiasi.

Ia relatif sudah tak melakukan terapi apa pun sejak akhir 2022, seolah-olah sudah merasa sangat kecapaian menghadapi kankernya yang terus muncul kembali meskipun telah dilakukan operasi dan radiasi berkali-kali. Ia sempat berusaha mencari alternatif dengan ECCT pada akhir 2022. Tetapi hasil analisis kasus berdasarkan hasil patologi dan CT scan terakhir oleh tim biofisika ECCT menunjukkan bahwa kasusnya termasuk sulit untuk ditangani dengan alat ECCT. Massa yang tumbuh di langit-langit rongga mulut bisa dimatikan dengan medan listrik ECCT, tetapi sel mati akan mengalami proses rontok sedikit demi sedikit seperti dioperasi perlahan, prosesnya bisa sangat sakit. Permasalahan yang kedua adalah bahwa bekas operasi kosmetik di area wajah tidak bisa dijamin bebas tumor; apabila kulit wajah sudah terinfiltrasi massa tumor, dengan pemakaian alat sel-sel ganas akan mengalami kematian relatif cepat; karena posisinya di permukaan kulit, sementara banyak jalur pembuluh darah yang terpotong oleh proses operasi, akibatnya sel-sel mati akan menumpuk di jaringan sekitar massa tumor yang tumbuh di bawah permukaan kulit, bisa menyebabkan radang kronis dan luka terbuka.

Mematikan sel ganas dengan ECCT relatif tak terlalu masalah. Yang menjadi tantangan adalah apabila jaringan tumor telah menginfiltrasi dan ikut menopang jaringan sekitar, ketika sel kanker rontok jaringan sekitar ikut terpengaruh karena jaringan penopangnya rontok. Proses mati dan rontoknya sel ganas bisa berlangsung selama 3-6 bulan, dilanjutkan proses pemulihan bekas sel yang rontok/luka bisa memerlukan waktu lebih dari 6 bulan apabila ditopang dengan asupan nutrisi yang baik dan kerja imun yang normal. Proses sel rontok dan pemulihan bisa menimbulkan rasa sakit juga. Pemulihan sel rontok di area wajah bisa meninggalkan jaringan parut (scar), keloid, atau distorsi pada wajah yang mengganggu penampilan.

Bu Wini sempat berpikir ulang terkait rencana pakai ECCT setelah mendapatkan penjelasan tentang risiko (adverse event) yang bisa muncul, sehingga selama 2 tahun ia relatif tak melakukan terapi apa pun. Keluhannya masih terus ada. Hasil CT scan 2 tahun kemudian di tahun 2024 menunjukkan massa yang terus berkembang hingga 3 kali lipat ukuran awal pascaoperasi dan radiasi terakhir, dari 2 cm menjadi 6 cm. Buat Bu Wini sepertinya tidak ada pilihan lain selain mencoba pakai alat ECCT. Perlu 2 tahun dan didorong oleh kankernya yang terus tumbuh buatnya untuk memberanikan diri menghadapi risiko yang bisa muncul dengan pemakaian alat.

Akhir 2024 Bu Wini mulai pakai alat ECCT. Selama 5 tahun terakhir tim riset pengembangan ECCT terus berusaha memperbaiki alat dan protokol penggunaan alat yang lebih efektif, mengurangi risiko adverse event yang mungkin muncul guna mengatasi berbagai permasalahan dan tantangan berat seperti kasus yang dihadapi oleh Bu Wini. Kasusnya masuk kategori paliatif secara ECCT di antara pengguna ECCT yang umumnya sudah masuk kategori paliatif secara medis, menggunakan ECCT sebagai pengobatan komplementer pascaperawatan konvensional.

Selama 5 tahun terakhir pengembangan devais ECCT diarahkan pada pemilihan modulasi sinyal untuk menghilangkan efek radang yang bisa ditimbulkan oleh paparan medan listrik pada jaringan, mengatur kecepatan kematian sel yang disesuaikan dengan kemampuan tubuh dan jaringan di sekitar massa tumor untuk menyerap sel-sel mati sehingga tak terjadi penumpukan sampah nekrosis yang berlebihan yang menyebabkan radang dan luka terbuka. Pengembangan juga dilakukan untuk mengatasi efek stimulasi medan listrik terhadap reseptor pada membran sel yang menjadi faktor pertumbuhan sel seperti reseptor hormon, HER2 dan EGFR, sehingga dalam jangka panjang alat juga bisa mencegah pertumbuhan kembali sel, hal yang sangat penting untuk kasus tumor dengan pertumbuhan lambat dan mengganggu saraf seperti yang dialami oleh Bu Wini.

Perkembangan yang dialami oleh Bu Wini relatif baik, tidak terjadi adverse event seperti radang kronis dan luka terbuka seperti yang dijelaskan di awal pertama kali ia datang di akhir 2022 meskipun volume massa telah bertambah hingga 3X lipat. Umumnya dengan pertambahan volume massa tumor kemungkinan terjadi radang kronis dan luka terbuka menjadi lebih tinggi akibat penumpukan sel mati nekrosis yang tidak bisa diserap oleh tubuh dengan baik. Massa tumor yang dialami oleh Bu Wini setelah selama 2 tahun tak mengalami terapi apa pun juga telah menginfiltrasi otot dahi, pipi, dan kepala samping hingga tulang rahang atas, juga kelenjar getah bening di leher kanan dan kiri berdasarkan hasil CT scan tahun 2024. Tetapi rasa sakit tak tertahankan yang merupakan risiko adverse event yang paling tinggi yang bisa terjadi untuk kasus ini seperti telah dipertimbangkan di awal tidak terjadi. Pengembangan devais ECCT terbaru selama 5 tahun terakhir bisa dibilang cukup berhasil mengatasi tantangan-tantangan permasalahan berat yang dialami oleh Bu Wini.

Pada pemakaian sebulan pertama rasa sakit pada bekas jahitan operasi, rasa sakit pada bagian leher yang ada benjolan di kelenjar getah bening, serta rasa berat di kepala dan pusing masih ada. Rasa sakit bisa muncul karena massa telah menginfiltrasi jaringan otot dan saraf. Sejauh ini devais ECCT sedikit banyak membantu mengurangi rasa sakit untuk kasus infiltrasi otot dan saraf, tetapi penggunaan fitur ini secara berkepanjangan bisa berefek pada pertumbuhan massa tumor yang meningkat pada jangka panjang. Perkembangan setelah pemakaian sebulan nampak bekas operasi sudah mengering seluruhnya, bagian langit-langit rongga mulut yang ditumbuhi kembali massa tumor nampak lebih bersih.

Setelah pemakaian 6 bulan kondisi Bu Wini semakin membaik, wajahnya nampak jauh lebih segar. Pembuangan keringat dan urin cenderung masih bau menyengat, lendir berwarna merah dari rongga hidung kadang masih keluar, tanda sel rontok dan detoks masih berjalan meskipun sudah tidak sesering di awal pemakaian. Karakter pembuangan yang dialaminya sesuai dengan tipe kanker adenoid kistik yang cenderung mengeluarkan cairan lendir yang relatif bau menyengat. Selama pemakaian alat Bu Wini tidak pernah mengalami pendarahan dari area massa kanker. Proses massa kanker meluruh dan rontok terjadi relatif perlahan tanpa menimbulkan luka, berkat pengembangan devais ECCT terbaru. Lendir bercampur gumpalan masih keluar hingga pemakaian selama 1 tahun, sesuai dengan karakternya yang slow-growing, karena respons ECCT berbanding lurus dengan tingkat pertumbuhan sel.

Setelah pemakaian setahun kondisi Bu Wini relatif sudah normal, berat badannya sudah naik, lendir kadang-kadang saja masih keluar, tidurnya sudah tidak ada masalah. Rasa sakit masih kadang-kadang muncul di bekas operasi terutama setelah beraktivitas fisik banyak seharian. Kemungkinan hal itu disebabkan oleh penumpukan cairan karena aliran tidak lancar akibat pembuluh darah yang tidak normal oleh adanya jaringan parut bekas operasi.

Hasil CT scan setelah pemakaian setahun menunjukkan massa kanker yang sudah menyusut lebih dari 90%, tinggal jaringan yang tipis di bagian tulang pipinya di bagian kanan.

Setelah 2 tahun pemakaian ECCT, atau 10 tahun sejak pertama kali didiagnosis kanker rahang/rongga mulut, kondisi Bu Wini relatif normal, aktivitasnya normal, tidurnya normal.

Semoga tetap sehat buat Bu Wini (WS).