
GAMBAR: KANAN: Foto bagian luka di lidah saat sebelum dan sesudah operasi, sebelum pakai alat; TENGAH: Foto bagian lidah sesudah pakai alat ECCT 2 minggu dan 1,5 bulan; KIRI: Gambar hasil CT scan setelah pemakaian 3 minggu dan ECVT setelah pemakaian 1,5 bulan.
Stres berat karena ibunya meninggal membuat luka di lidahnya karena kegigit berubah menjadi kanker.
Awal lidahnya hanya tergores oleh pinggir giginya yang tajam setelah dua gigi di sampingnya habis dicabut sekitar bulan Februari-Maret yang lalu. Merasa tak terlalu masalah, Mas Azis membiarkannya, hanya sesekali mengobatinya dengan obat semprot. Tetapi karena goresannya agak panjang, lukanya jadi lama sembuh.
Perubahan mulai terjadi setelah habis Lebaran bulan April setelah ibunya meninggal. Stres berat membuatnya jadi tak bisa mengontrol makan dan minum. Sehari ia bisa menghabiskan minuman manis bergelas-gelas, minum kopi sasetan bisa lebih dari 3 kali sehari, mengonsumsi kue-kuean tak terkontrol. Berat badannya yang sudah obesitas di usianya yang masih 38 semakin bertambah tak terkontrol.
Luka di lidahnya yang tadinya hanya goresan berubah menjadi basah dan meradang, disertai rasa sakit yang bertambah. Obat semprot tak mempan. Ketika ia memeriksakan dirinya ke dokter spesialis besoknya dokternya langsung menjadwalkan untuk operasi.
Hasil penelitian patologi terhadap sampel hasil operasi menunjukkan keganasan, tipe karsinoma sel skuamosa tanpa keratin dengan diferensiasi buruk, tipe kanker lidah paling agresif yang berkembang cepat dan mudah menyebar. Tepi sayatan masih mengandung tumor di beberapa titik sayatan. Dasar sayatan sangat dekat dengan tumor, disertai kesan invasi ke limfovaskular dan infiltrasi hingga ke sebagian otot serat lintang dengan sudah terjadi ulkus, hal yang menyebabkan mulai muncul rasa sakit yang sangat.
Jadwal konsultasi dengan dokter onkologi rujukan dari dokter bedah kepala dan leher masih harus menunggu hingga 2 bulan melalui prosedur BPJS. Sementara masih menunggu jadwal konsul dengan dokter onkologinya, hanya dalam beberapa hari pada bekas lukanya sudah mulai terjadi ulkus dan radang.
Karenanya Mas Azis memutuskan untuk konsultasi kemungkinan bisa pakai ECCT kurang dari seminggu setelah operasi.
Secara tipe sel karakter fisiknya lunak, tingkat polaritas listrik sel tinggi, berbeda dengan tipe skuamosa dengan keratin dan diferensiasi baik yang secara polaritas listrik relatif rendah. Tipe sel ini mudah dipengaruhi oleh medan listrik dari luar, merespons ECCT. Semakin tinggi tingkat keganasan sel umumnya semakin tinggi tingkat polaritas listriknya, semakin cepat mengalami kematian dengan alat ECCT.
Mas Azis hari itu juga mulai pakai alat ECCT berupa dua set penutup kepala hingga leher untuk menjangkau area massa primer di bagian lidah, ditambah satu set lagi yang menjangkau hingga dada dan perut untuk mencegah kemungkinan ada penyebaran.
Reaksinya cepat, sesuai dengan karakter tipe sel dengan agresivitas tinggi, ditandai dengan urin yang keruh dan bau menyengat, buang air besar yang gelap/hitam dan bau menyengat, serta lendir dari luka di lidahnya yang banyak tetapi relatif tak lengket. Berbeda dengan tipe keratin dan diferensiasi baik yang ketika sel mengalami kematian disertai dengan lendir yang sangat lengket. Karena karakter sel matinya relatif encer, pembersihan sel-sel mati oleh sistem imun tubuh bisa bekerja dengan baik, luka cepat menutup dan bersih.
2 minggu setelah pemakaian ECCT lukanya sudah tidak berdarah, ulkus relatif lebih bersih. Hasil CT scan setelah pemakaian 3 minggu menunjukkan bagian lidah di bekas operasi tinggal penebalan yang masih sisa, disertai pembesaran kelenjar getah bening di kanan dan kiri lidah yang masih terdeteksi, tak tampak gambaran peradangan luas seperti yang kelihatan pada lidahnya saat setelah operasi.
1,5 bulan setelah pemakaian alat ECCT lukanya sudah bersih dan pulih. Hasil scan ECVT masih menunjukkan adanya penekanan saraf lidah hingga ke sambungan saraf di bagian batang otak di posisi medula oblongata sebelah kanan. Ia juga masih merasakan pegal pada lidahnya yang berkorelasi dengan masih ada penekanan saraf pada lidahnya sebelah kanan.
Ia belum melakukan kemoterapi karena masih menunggu jadwal konsultasi dengan dokter onkologinya. Yang jelas alat ECCT membantu mempercepat pemulihan dan pembersihan luka bekas operasinya sambil menunggu jadwal kemoterapi oleh dokter onkologinya.
Semoga tetap sehat buat Mas Azis, bisa terus pulih hingga tuntas.
