1,5 tahun yang lalu Bu Jumariati mengalami batuk berdarah akibat kanker ovarium yang sudah menyebar ke paru-paru akibat cairan efusi pleura masif. Kankernya masih terus berkembang meskipun sudah menjalani 5 kali kemo selama 4 bulan sebelumnya, massa penyebaran di paru-paru, dalam waktu kurang dari 6 bulan diameternya sudah lebih dari 2 kali lipat. Karakter kankernya sesuai dengan tipe keganasan tinggi (high grade) tipe high grade serous cell carcinoma. Kondisi kanker Bu Jumariati tak bisa dioperasi karena ada penyebaran di paru-paru, hanya bisa dilakukan kemo. Sementara kemo juga sudah tak mempan. Satu-satunya pilihan buat Bu Jumariati saat itu hanya tinggal ECCT.


Gambar: ATAS: Hasil USG dan CT scan awal sebelum dan sesudah menjalani kemo, sebelum pakai alat ECCT yang menunjukkan massa di rahim dan penyebaran di paru-paru yang disertai efusi pleura masif, massa di paru-paru yang berkembang cepat dalam kurun waktu 3 bulan meskipun telah menjalani kemo (Foto X-Ray 24/9/2026); Hasil foto X-Ray setelah pemakaian ECCT selama 1,5 tahun yang menunjukkan massa di paru-paru yang sudah tak tampak jelas lagi, kondisi efusi pleura yang sudah bersih, serta hasil USG abdomen yang massa di rahim yang sudah tak jelas; BAWAH: Foto Bu Jumariati setelah pemakaian 6 bulan dan 1,5 tahun yang tampak sehat dan relatif normal.
***
1,5 tahun yang lalu Bu Jumariati mengalami batuk berdarah akibat kanker ovarium yang sudah menyebar ke paru-paru. Ia juga sempat mengalami perut membesar akibat cairan di rongga perut (asites) serta cairan efusi pleura di paru-paru masif. Ia sudah menjalani kemoterapi. Pasca kemo dan pemasangan selang drainase cairan asites berkurang, perut mengempis.
Kankernya masih terus berkembang meskipun sudah menjalani 5 kali kemo selama 4 bulan sebelumnya, dari awalnya hanya 6โ7 cm di ovarium menjadi 14 cm, dan dari 2โ3 cm menjadi 5โ6 cm di paru-paru, dalam waktu kurang dari 6 bulan diameternya sudah lebih dari 2 kali lipat. Karakter kankernya sesuai dengan tipe keganasan tinggi (high grade). Hasil biopsi kemudian memang menunjukkan tipe high grade serous cell carcinoma.
Kondisi kanker Bu Jumariati tak bisa dioperasi karena ada penyebaran di paru-paru, hanya bisa dilakukan kemo. Sementara kemo juga sudah tak mempan. Satu-satunya pilihan buat Bu Jumariati saat itu hanya tinggal ECCT.
Hanya saja konsultan terapi ECCT saat itu menjelaskan bahwa untuk massa di paru-paru untuk tipe sel dengan keganasan tinggi ada kemungkinan bisa mengecil hingga hilang, tetapi massa di ovarium kemungkinan hanya bisa dimatikan, tidak bisa terbuang karena terbungkus selaput.
ECCT tak mampu menghancurkan selaput yang pada dasarnya jaringan normal yang direkrut oleh tumor (tumor associated fibroblast), hanya sel ganas saja yang bisa hancur dengan ECCT. Alasan yang sama juga kenapa obat kemo tak mempan karena obat yang dinjeksikan lewat pembuluh darah tak bisa menembus selaput tumor. Demikian juga massa tumor yang sudah mati dengan ECCT tak bisa keluar melewati selaput, tak akan bisa hilang apabila tak dioperasi. Sementara operasi hanya mungkin dilakukan apabila penyebaran di paru-paru sudah bersih.
Buat Bu Jumariati kemungkinan hal itu adalah harapan terbaik yang bisa dicapai dengan kankernya. Apa pun tindakan yang perlu dilakukan nantinya, hal yang pertama harus dilakukan adalah mematikan sel ganas.
Secara prinsip ECCT relatif tak ada kendala untuk mematikan sel ganas di rongga perut karena medan listrik akan tetap bisa menembus jaringan tubuh yang kompleks. Hanya efektivitas bisa berkurang apabila ada asites, karena cairan di rongga perut menyebabkan kontras dielektrika jaringan berkurang, gradien kekuatan medan listrik menjadi landai. Melakukan drainase cairan asites akan membantu menjaga efektivitas terapi medan listrik untuk kasus kanker di rongga perut.
Bu Jumariati memulai pakai alat ECCT akhir 2024. Kondisinya berangsur membaik seiring dengan pemakaian alat. Nafsu makannya kembali, batuk dan sesak napas berangsur berkurang. Batuk berdarah berhenti dalam waktu 2 minggu pemakaian alat.
Pembuangan melalui dahak berwarna putih kadang bercampur kuning kental keluar banyak sebagai reaksi proses peluruhan sel kanker di paru-parunya. Selain itu pembuangan sel mati yang dialami oleh Bu Jumariati juga terjadi melalui buang gas (kentut) yang seolah berentet terus-terusan, air seni bening berbusa, tak bau menyengat dan seperti terus-menerus keluar hampir setiap jam sekali hingga 2โ3 bulan pertama pemakaian. Pembuangan melalui lendir seperti keputihan dan gumpalan seperti menstruasi maupun buang air besar yang bau menyengat dan hitam tak terjadi, sesuai karakter massa yang terselubung selaput.
Di awal pemakaian ia sempat mengalami demam seperti kena infeksi virus, hal yang wajar terjadi sebagai respons imun tubuh terhadap sel-sel mati yang mulai beredar di dalam darah, umumnya terjadi mulai minggu ketiga pemakaian. Hal ini menunjukkan bahwa proses kematian sel bisa terjadi dalam hitungan minggu. Secara prinsip teoritis kematian sel bisa terjadi dalam 2โ5 menit; Hasil pengamatan langsung jaringan kanker pada pasien kanker jenis adenokarsinoma bisa mengalami kematian dalam 15โ30 menit.
Perbaikan kondisi umumnya juga berlangsung relatif cepat. Dalam waktu kurang dari 3 bulan ia sudah kembali melakukan aktivitas rutin sebagai ibu rumah tangga seperti mengepel lantai, masak sehari-hari dan juga masak besar mingguan untuk kegiatan Jumat Berkah. Dalam waktu kurang dari 6 bulan ia sudah kembali mengajar offline di kampus.
Hanya mungkin karena kegiatan fisiknya yang terlalu berlebihan ia sempat drop lagi hingga muncul asites yang masif lagi di perutnya. Ia sempat disedot lagi cairan di perutnya hingga 3 kali sebanyak total 8,5 liter Hal ini bisa terjadi manakala massa tumor di ovarium yang kemungkinan sudah mati/lemah tidak terbuang; Aktivitas fisik yang berlebihan bisa menyebabkan kadar albumin dan elektrolit darah turun, memicu peradangan kronis sebagai respons imun terhadap sel-sel mati yang tak terbuang.
Beruntungnya massa di paru-paru relatif sudah hampir bersih dan tak muncul lagi cairan efusi pleura, sehingga dokternya akhirnya berani memutuskan untuk melakukan operasi massa tumor yang di ovarium. Bu Jumariati menjalani kemo dulu 3 kali sebelum operasi dan 3 kali setelah operasi. Massa tumor di ovariumnya bisa diambil bersih dengan operasi tanpa terjadi perlekatan. Umumnya pemakaian alat 2โ3 bulan sebelum operasi cukup membantu kasus kanker ovarium untuk melepas perlengketan sehingga bisa dioperasi dengan bersih. Ia terus memakai alat untuk mencegah tak terjadi kekambuhan dan penyebaran kembali, serta untuk kesehatan umum.
Hasil operasi menunjukkan tipe sel high grade serous cell carcinoma, tipe yang sangat agresif untuk kasus kanker ovarium. High-Grade Serous Cell Carcinoma (HGSC) yang telah mengalami metastasis ke paru-paru bisa menyebabkan efusi pleura masif dan asites masif, menandakan kanker berada pada stadium lanjut (stadium IVb), menggambarkan perilaku tumor yang sangat agresif. Untuk penanganan kasus seperti ini umumnya masuk kategori paliatif, sebatas untuk mengurangi gejala (paliatif), seperti tindakan pungsi cairan (torakosentesis untuk paru, parasentesis untuk perut) untuk melegakan napas dan mengurangi nyeri. Prognosis kasus seperti ini umumnya juga kurang begitu bagus, tingkat survival rata-rata hanya 7โ23 bulan, untuk mencapai remisi dan kondisi sehat kembali terbebas dari kanker hampir tidak mungkin.
Tetapi Bu Jumariati berhasil membalikkan kondisi dari paliatif menjadi kuratif hingga terbebas dari kanker dan kembali ke kondisi normal.
Secara umum penyebaran kanker tak menjadi masalah dengan ECCT. Sel kanker tetap bisa dimatikan, semakin agresif semakin cepat bisa dimatikan; Apabila pembuangan sel-sel mati berjalan dengan lancar (baik secara tipe sel maupun jalur pembuangan), penyebaran yang luas untuk jenis kanker yang lunak dan agresif seperti adenokarsinoma dengan diferensiasi buruk atau high grade serous cell masih memungkinkan untuk mencapai bersih. Massa yang tidak terbuang setelah dijinakkan/dimatikan dan penyebaran sudah bersih bisa dilakukan operasi secara aman dan tuntas. Umumnya perlu waktu 2โ3 bulan untuk menjinakkan/mematikan sel kanker ovarium dengan tingkat keganasan tinggi sebelum operasi dengan ECCT dan perlu waktu 6 bulan untuk membersihkan penyebaran kecil-kecil sehingga bisa dioperasi. Kemo akan membantu mencegah terjadinya peradangan kronis ketika ada penyebaran di kelenjar getah bening sehingga akan lebih cepat mencapai remisi.
Kondisi Bu Jumariati saat ini dalam keadaan sehat dan aktivitas normal, melewati 1,5 tahun sejak pertama kali pakai alat ECCT atau 2 tahun dari sejak didiagnosis kanker ovarium stadium 4b.
Semoga tetap sehat buat Bu Jumariati (WS).
